Standardisasi dan Uji Kompetensi Karyawan

A. Pengertian Standardisasi

Yang dimaksud dengan standar adalah suatu ukuran, patokan,  tingkat, kriteria atau persyaratan tertentu yang disepakati untuk dicapai. Dengan demikian standardisasi adalah proses usaha atau kegiatan supaya sesuatu  menjadi terstandar (mencapai suatu tingkat, kriteria atau persyaratan tertentu yang telah ditetapkan). Dalam hal ini standardisasi yang dimaksud adalah standardisasi kompetensi karyawan, sehingga artinya di sini adalah suatu proses usaha atau kegiatan supaya karyawan memiliki kompetensi yang terstandar dalam arti mencapai suatu patokan, tingkat, kriteria atau persyaratan kompetensi tertentu yang telah ditetapkan. Dengan adanya Standardisasi Kompetensi Karyawan ini  diharapkan karyawan akan mencapai dan memiliki kompetensi sesuai dengan kriteria atau persyaratan yang telah ditetapkan untuk dikuasai, sehingga mampu melakukan tugasnya secara profesional.  Dalam pengembangannya, Standardisasi Kompetensi Karyawan ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan pekerjaan maupun tuntutan masyarakat, berangkat dari kompetensi awal yang dimiliki oleh karyawan yang baru lulus dari perkaryawanan tinggi sehingga akhirnya akan tercapai kompetensi sebagai karyawan yang profesional..

B. Prosedur Standardisasi

Kebutuhan adanya standardisasi kompetensi karyawan berawal dari adanya permasalahan yang menyangkut karyawan. Seperti diuraikan sebelumnya, permasalahan yang ada ini di antaranya adalah adanya keberagaman kompetensi karyawan, belum adanya alat ukur yang akurat untuk mengetahui kompetensi karyawan, belum terpetakannya kompetensi karyawan serta pembinaan yang dilakukan selama ini belum mencerminkan kebutuhan nyata bagi karyawan maupun bagi lembaga umumnya.

Dari permasalahan di atas, utamanya dalam hal  keberagaman kompetensi karyawan, maka diperlukan sebuah standar berupa penguasaan kompetensi terstandar yang harus dicapai oleh karyawan. Kompetensi terstandar ini ditentukan berdasarkan tuntutan pekerjaan maupun masyarakat dan harus memenuhi atau mempertimbangkan konteks global maupun Indonesia. Dengan demikian standar kompetensi yang ditetapkanpun harus memenuhi kriteria sesuai tuntutan pekerjaan dan masyarakat serta sesuai dengan konteks dan aspek global maupun keindonesiaan tersebut. Dengan adanya standar kompetensi maka ini menjadi acuan bagi pelaksanaan uji kompetensi dalam rangka untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi oleh karyawan. Dari hasil uji kompetensi maka bagi yang lulus maka akan diberikan sertifikat kompetensi sebagai bukti penguasaan kompetensi dan bagi yang belum lulus maka harus mengikuti diklat atau jenis pembinaan lain supaya mencapai kompetensi yang telah ditentukan sehingga yang bersangkutan dapat mengikuti uji kompetensi ulang. Dengan pola atau prosedur yang demikian maka diharapkan akan tercipta karyawan yang kompeten dan profesional. Dengan uji kompetensi ini pula maka akan diperoleh peta kompetensi karyawan, sebagai bahan pembinaan.

C. Pengertian Uji Kompetensi

Yang dimaksud dengan uji atau pengujian adalah suatu proses pengukuran dan penilaian atas sesuatu hal. Sedangkan pengukuran dan penilaian sendiri adalah upaya sistematis untuk mengumpulkan, menyusun, mengolah dan menafsirkan data, fakta dan informasi (yang dapat dipertanggungjawabkan) dengan tujuan menyimpulkan nilai atau peringkat seseorang dalam suatu jenis atau bidang (berdasarkan kriteria atau norma) tertentu, serta menggunakan kesimpulan tersebut dalam proses pengambilan keputusan tentang status atau kedudukan seseorang yang bersangkutan berikut rekomendasi tindak lanjutnya (Makmun,  1996). Dengan demikian yang dimaksud dengan uji kompetensi adalah proses pengukuran dan penilaian kompetensi pada diri seseorang  dengan tujuan menyimpulkan nilai atau peringkat kompetensi seseorang dalam suatu jenis atau bidang pekerjaan keahlian atau profesi tertentu, serta menggunakan kesimpulan tersebut dalam proses pengambilan keputusan tentang status atau kedudukan seseorang yang bersangkutan berikut rekomendasi tindak lanjutnya.

Instrumen yang perlu dikembangkan untuk mengukur kompetensi diantaranya adalah : perangkat tes, pedoman pembuktian penguasaan kompetensi/portofolio, pedoman observasi, pedoman wawancara, skala penilaian, daftar check dan sebagainya. Untuk memperoleh perangkat instrumen yang derajat kehandalannya dapat dipertanggungjawabkan (validitas dan reliabilitasnya), maka terlebih dulu dilakukan pengujian atau pertimbangan dari para ahli di bidangnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dari sisi perangkat tes, ada dua macam perangkat tes yaitu : (1) Power test; (2) Speed Test. Power test digunakan untuk menggali kemampuan seseorang tanpa melihat waktu untuk mengerjakan tes tersebut, sedangkan speed test digunakan untuk mengukur kecepatan seseorang dalam mengerjakan tes tersebut. Dalam proses pembelajaran kompetensi, yang digunakan sebagai latihan mula-mula adalah power test, di mana seseorang mengerjakan tes (tertulis maupun praktek) tanpa dibatasi waktu, kemudian secara berangsur-angsur dimensi waktu juga menjadi ukuran. Dan karena sistem kompetensi acuannya adalah kenyataan di lapangan maka dimensi waktu menjadi hal yang tidak dapat diabaikan, dan secara singkat dapat dikatakan bahwa seseorang disebut kompeten bila dapat melakukan pekerjaan secara benar, tepat dan cepat.

D. Tujuan, Fungsi dan Pendekatan Uji Kompetensi

Dalam hal penilaian kompetensi, sebenarnya hanya terdiri dari dua jenis yaitu kompetensi dan belum kompeten. Adapun tujuan uji kompetensi bagi karyawan utamanya adalah untuk mengetahui apakah kompetensi yang dimiliki karyawan telah memenuhi standar kompetensi yang ditentukan. Selain itu juga bertujuan sebagai dasar tindak lanjut pembinaan dan untuk memetakan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan.

Pengukuran dan penilaian yang terkandung dalam uji kompetensi karyawan memiliki fungsi : (1) Secara psikologis, uji kompetensi berfungsi sebagai media untuk membentuk sikap dan perilaku karyawan; (2) Secara sosiologis, berfungsi sebagai media untuk mengetahui kesiapan karyawan dalam melakukan bidang tugasnya; (3) Secara didaktik metodik, untuk membantu pimpinan dalam usaha memperbaiki sistem pembinaan dan memberikan perlakuan khusus yang sesuai dengan kebutuhan individu karyawan; (4) Secara administratif, sebagai bahan pelaporan atas kompetensi yang dimiliki oleh karyawan; (5) Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu program diklat yang telah diterapkan terhadap karyawan tersebut.

Pendekatan penilaian dalam uji kompetensi menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP), karena memiliki acuan penilaian yang sudah baku yaitu Standar Kompetensi Karyawan. PAP adalah suatu pengukuran dan penilaian berdasarkan suatu patokan atau standar tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Patokan atau standar kelulusan dalam PAP bersifat tetap artinya batas persyaratan minimal tidak didasarkan atas prestasi kelompoknya, tetapi didasarkan atas indikator atau kriteria unjuk kerja dalam standar kompetensi.

Jadi bagi karyawan yang telah berhasil mencapai atau melampaui persyaratan kompetensi dinyatakan Kompeten dan yang belum mencapai persyaratan kompetensi dinyatakan Belum Kompeten. Bagi mereka yang telah Kompeten maka tindaklanjutnya adalah dengan memberikan pembinaan ke arah pengembangan profesinya atau penghargaan lain. Sedangkan yang Belum Kompeten maka tindak lanjutnya adalah harus mengikuti program pembinaan untuk mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan, melalui pendidikan dan pelatihan, pemagangan atau program lain yang sesuai. Jadi program tindak lanjut bagi yang Belum Kompeten ini merupakan program remediasi, dan setelah mengikuti berbagai program yang disediakan ini mereka berhak mengikuti uji kompetensi kembali sampai berhasil mencapai standar yang telah ditentukan.

Instrumen pengukuran dan penilaian dalam uji kompetensi disusun sesuai dengan aspek yang akan diukur, yaitu : (1) Studi dokumentasi, dimaksudkan untuk mengungkap kompetensi karyawan yang berhubungan dengan tugas karyawan dalam bentuk dokumen yang berkaitan langsung dengan kegiatan teknis yang bersangkutan; (2) Observasi penampilan, dimaksudkan untuk mengungkap kompetensi karyawan yang berhubungan dengan perwujudan unjuk kerja karyawan ketika melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya; (3) Portofolio, dimaksudkan untuk mengungkap kompetensi karyawan yang berhubungan dengan fakta atau bukti keterlibatannya dalam suatu kegiatan, seperti sertifikat, makalah, bahan ajar, artikel atau lainnya; (4) Tes tertulis, dimaksudkan untuk mengungkap kompetensi karyawan yang berhubungan dengan pemahaman wawasan tentang kependidikan maupun bidang keilmuan teknis sesuai bidangnya. Adapun dalam pelaksanaannya uji kompetensi harus memenuhi prinsip-prinsip : menggunakan instrumen yang valid dan reliable, bersifat adil, komprehensif, terbuka, berkesinambungan/ berkelanjutan dan fleksibel.

Pelaksanaan pengukuran atau uji kompetensi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan atau metode, yaitu : (1)  Pengujian kerja nyata; (2) Pengujian simulasi kerja; (3) Pengujian tertulis; (4) Pengujian wawancara (Fletcher, 1997). Pada pengujian kerja nyata maka peserta uji diobservasi dalam kondisi sebenarnya di lapangan kerja, bisa jadi seseorang yang diobservasi tidak sadar  bahwa dirinya sedang diobservasi, karena mungkin dikhawatirkan pelaksanaan “ujian” justru akan membuat seseorang menjadi merasa tertekan dan tidak menampakkan kompetensi yang sebenarnya. Tetapi bila seseorang memang siap mental untuk “diuji” maka pelaksanaan observasi bisa dilakukan dengan pemberitahuan lebih dahulu, sehingga seseorang terhindar dari kesalahan yang tidak perlu. Dua cara ini, diberitahukan atau tidak, pelaksanaannya tergantung dari situasi dan kondisi serta cara mana yang lebih baik bagi seorang peserta uji.

Pengujian simulasi kerja dilakukan apabila tidak memungkinkan untuk menghadirkan situasi yang sebenarnya dalam proses pengujian, misalnya karena benda yang menjadi obyek pengerjaan terlalu besar, terlalu berbahaya atau pada saat pengujian dilakukan ternyata jenis pekerjaan yang dimaksud dalam unit kompetensi tersebut tidak sedang ada. Pengujian tertulis dan wawancara dilakukan untuk menggali pengetahuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan, keduanya dapat dilakukan secara terpisah dengan uji praktek atau bersamaan dengan uji praktek.

E. Sertifikasi

Bagi peserta yang lulus uji kompetensi maka diperlukan sebuah bukti atas pengakuan telah dikuasainya sejumlah kompetensi oleh orang yang lulus tersebut. Bukti atas pengakuan bahwa seseorang telah menguasai seperangkat kompetensi yang dipersyaratkan biasa berupa sertifikat pengakuan. Jadi pengertian sertifikasi sendiri bukanlah sekedar pemberian sertifikat tetapi merupakan suatu proses seseorang memperoleh pengakuan (Makmun, 1996). Sertifikasi juga dapat berupa sebuah program, yang mana program tersebut dirancang supaya seseorang dapat menguasai seperangkat kompetensi tertentu. Pada akhir program tersebut dilakukan suatu uji kompetensi dan bagi yang lulus kepadanya diberikan sertifikat kompetensi, ini sesuai dengan dengan peraturan bahwa sertifikat dapat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi serta sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi (UUSPN, 2003).

Sertifikat diberikan bagi peserta yang dinyatakan lulus atau Kompeten sebagai bukti atas dikuasainya seperangkat kompetensi oleh seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah sertifikat diberikan bagi karyawan yang dinyatakan lulus dalam uji tertulis  dan juga lulus dalam hal uji praktek (performance). Sertifikat kompetensi karyawan dapat memiliki masa berlaku (5, 6 atau 7 tahun, tergantung kondisi dan situasi),   karena pada kurun waktu tersebut mungkin telah terjadi perpindahan atau perubahan tugas karyawan yang memerlukan kompetensi baru dan tidak lagi menggunakan kompetensi yang selama ini telah dimiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s